SEJARAH SINGKAT MISI dan

PASTORAL KEUSKUPAN SURABAYA

 

 

1528

Di Maluku ditandatangani perjanjian persahabatan antara Panglima tentara PORTUGIS dengan perutusan RAJA BLAMBANGAN yang punya pelabuhan penting yaitu PENARUKAN. Sejak itu lalu di Penarukan berdiam sejumlah orang Portugis

 

1546

Perjalanan  St. FRANSISCUS  XAVERIUS ke Ambon. Dalam catatan perjalanannya, diceritakan bahwa di Jawa Timur terjadi persaingan dan perebutan kekuasaan antara bupati/raja kecil yang memeluk ISLAM dengan yang beragama HINDU. Untuk memperkuat kedudukan maka pihak Hindu mencari dukungan kepada pihak portugis di Maluku.

 

3 Desember 1559

Romo  Balthasar Diaz, SJ dalam surat perjalanan dari MALAKA ke GOA, dia menulis: “Dalam pelayaran dari sini ke SOLOR, orang singgah di kerajaan Panarukan yang penduduknya masih kafir dan tidak pernah mau tunduk kepada ajaran Islam… orang bilang kepada saya, bahwa penduduk Panarukan tidak akan memeluk agama lain, kecuali agama kita”.

Ordo DOMINIKAN telah membangun biara di Malaka. Salah satu misionaris dari mereka Rm CASPAR da CRUS, OP menulis: bahwa para Dominikan bekerja sangat baik dan berguna di PANARUKAN yang letaknya di Jawa Timur.

 

1575

Peperangan  antara Sultan Ternate dengan Portugis, benteng Portugis bisa direbut. Orang Kristen dikejar-kejar.

Dikirimlah  Pasukan PEMULIHAN KEAMANAN ke Ternate. Karena badai  maka kapal singgah di Panarukan. Selama menunggu di pelabuhan, kapal diserang oleh 150 orang bersenjata keris. 30 orang Portugis mati, dua diantaranya misionaris YESUIT. Ada 3 misionaris Yesuit yang menumpang dikapal tersebut.

Romo BERNADINO FERRARI, SJ tidak ikut terbunuh karena sedang bertamu kepada Adipati Panarukan di kota. Terjadi persahabatan yang baik. Dia dihadiahi sebidang tanah untuk membangun Gereja.

Namun karena terjadi penyerangan, Ferrari kembali ke Malaka, dititipi sebuah surat dari Adipati Panarukan yang menyatakan keinginannya agar dari Malaka dikirim missionaries ke Panarukan.

Karena ordo SJ maupun Dominikan kekurangan tenaga untuk misi di Maluku dan NTT, maka dikirimlah 4 Misionaris FRANSISKAN ke Panarukan.

 

1584

Empat Misionaris Fransiskan mendarat di Panarukan. Dua tinggal di Panarukan dan dua lainnya menuju ibukota kerajaan yang bernama  BLAMBANGAN. Selama empat tahun mereka berkarya dan berkembang pesat. Banyak anggota kerajaan menjadi pemeluk Katolik.

 

1588

Terjadi pertentangan dan persaingan kekuasaan di Blambangan, yang sering meminta bantuan tentara Portugis. sehingga terjadi ketegangan di tiga pihak: ISLAM (Pasuruan) – HINDU (Blambangan) dan tentara PORTUGIS. Akibatnya Umat Katolik kena getahnya (dianggap agama Portugis). Maka para Misionaris kembali pulang ke Malaka.

 

1597 - 1599

Armada Belanda dibawah CORNELIS de HOUTMAN berlayar melalui selat Bali. Ditemui Adipati Pasuruan (ISLAM).

Kompeni Belanda memanfaatkan permusuhan agama, membantu Pasuruan (Islam) untuk merebut Blambangan (Hindu). Orang Portugis dan Katolik pribumi ditumpas, raja Hindu dihalau ke Bali.

Pada tahun tersebut, Godinko de Eridia menulis: "Tempat kediaman umat Kristiani di dekat Panarukan dihancurleburkan dan sekarang kosong tidak ada penghuninya”. Demikian akhirnya Umat Katolik habis dari bumi Blambangan. Belanda berkuasa hingga 1777 menguasai Blambangan dan sekitarnya. Blambangan berubah dari Hindu menjadi  Islam.

 

Desember 1799

Habis riwayat kekuasaan VOC di Asia dan Afrika dan digantikan dengan  BATAAFSE REPUBLIK (akibat dari Revolusi perancis).

1806 : Bataafse Republik  atas perintah Napoleon diubah menjadi KERAJAAN BELANDA. Orang Katolik mengalami sedikit kebebasan karena mulai diakui sebagai warga Negara yang sama derajadnya dengan Protestan. Hal ini berdampak sangat berarti bagi karya misi Katolik di Indonesia (Hindia Belanda).

Misionaris boleh bekerja dengan syarat memiliki “RADICAL”, suatu dokumen yang menyatakan bahwa pemiliknya memegang suatu jabatan dalam dinas sipil di Hindia Belanda.

 

8 Mei 1807

Seorang Imam Projo Belanda, Rm Y Nelissen diangkat oleh PAUS PIUS VIII menjadi  PREFECTUR APOSTOLIC  yang pertama di BATAVIA. Di Hindia Belanda, oleh Kerajaan Belanda, diberi tempat untuk 7 tenaga radical, yang menerima gaji pemerintah.

1807-1817  :  Mgr Y. Nelissen Pr

1817-1830  :  Mgr L. Prinsen Pr

1830-1842  :  Mgr YH. Scholten Pr

 

20 September 1842

Prefectur Apostolik Batavia diangkat status gerejaninya menjadi VIKARIAT APOSTOLIK BATAVIA

 

1811

berdiri Paroki SPM Kepanjen Surabaya

 

1897

berdiri Paroki St Cornelius Madiun

 

1925

berdiri Paroki St Vincentius Kediri

 

1928

berdiri Paroki HKY Katedral, St Yusuf Blitar

 

1932

berdiri Paroki Cepu

 

 

Periode I :

Katedral HKY - Surabaya

 

Pertanyaan MISI

Pastor Paroki di wilayah keuskupan Surabaya tentu bertanya kepada yang memberi SK : Keuskupan ini mau dibawa ke mana? (Sehingga kami tahu apa yang mesti di ‘buat’ di paroki yang didelegasikan untuk kami gembalakan) .

 pola pastoral macam apa yang di tetapkan di keuskupan ini? (sehingga kesatuan arah-gerak pastoral  sekeuskupan tidak sembarangan)

Lalu kita lihat realitas Paroki kita, jemaatnya macam apa dan sedang berdiri dan berjalan sejauh mana (misal: swot)

 

 

-------------------------------------------------------------------

 

 

Msgr. AJ. Dibjakarjana

(1983-1994)

“Ut Omnes Unum Sint “

 

Prioritas:

 -  Mempersatukan para imam, umat dan biarawan biarawati

 -  Kunjungan paroki dan stasi

 -  Mempersatukan Gereja dengan masyarakat

 -  Menumbuhkan panggilan imam projo (menahbiskan imam : 23 PR, 20 CM, 3 SVD)

 -  Membentuk Dana Abadi (mendirikan Pukat) untuk menanggung beaya rutin keuskupan

 -  Merintis Dana Solidaritas Keuskupan

 

-------------------------------------------------------------------

 

 

Msgr. J. Hadiwikarta

(25 Juli 1994 - 2004)

“Pastor Bonus”

 

Road-map Pastoral

 -  Mengunjungi semua Paroki , Biara dan berbagai kelompok

 -  Perlunya Visi dan Misi untuk menjadi pegangan arah bagi semua imam, Dewan Paroki dan seluruh Umat

    --> SINODE KS  20-22 Nov 1996

 

VISI Keuskupan Surabaya 1997-2001

Persekutuan Umat Allah yang dinamis, profetis, misioner, berkualitas, akrab dalam persaudaraan, yang hidupnya berpusat pada Yesus Kristus, Pastor Bonus, serta dibimbing oleh Roh Kudus, sebagai musafir yang peka melihat tanda-tanda jaman, punya kepedulian pada sesamanya, terutama yang kecil dan menderita, berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran, membina persaudaraan sejati dengan semua orang demi terwujudnya Kerajaan Allah

 

MISI

1. Membuka diri dalam dialog kehidupan dan karya dengan semua umat beragama yang ada, serta membina persaudaraan sejati dengan semua orang.

2. Membangun solidaritas pro-aktif bagi mereka yang lemah dan menderita, membela kehidupan dan martabat manusia sebagai citra Allah.

3. Membangun komunitas persaudaraan kristiani yang kokoh imannya, yang berakar pada Kitab Suci, Tradisi dan Sakramen- sakramen serta kebudayaan setempat.

4. Membangun persaudaraan diantara umat, mulai dari keluarga, lingkungan, Paroki dengan melalui pola kepemimpinan yang partisipatif, komunitas basis 5. gerejani.

5. Membentuk orang orang kristiani yang tangguh, dapat dipercaya, setia, mempunyai dedikasi, yang berjiwa missioner, mampu menjadi garam dan terang masyarakat, melalui pendidikan iman dan kaderisasi.

6. Membina dan mendampingi keluarga-keluarga agar dapat menjadi dasar atau basis dalam hidup menggereja dan memasyarakat.

 

3 Prioritas Bidang Pastoral

1. Pastoral Kaum Muda

2. Pastoral Keluarga

3. Katekese yang integratif dan kontekstual

 

Langkah strategis

- Rm Harjanto CM : vikjen dan vikep Tarekat Hidup Bakti

- Karya Pendidikan (mengatasi kekurangan murid dan dana beasiswa)

- Karya Kesehatan (mengatasi mahalnya beaya dan regulasi pemerintah, kurangnya tenaga dan dana)

- Karya Sosial (LKD dan PSE)

- Pastoral Pendampingan Buruh (didirikan PPB-KS okt 98)

- Forum Persaudaraan Sejati (HAK dan Bamag)

- Karya Retret dan Pembinaan (Aloysi, Johanes dan SKJJ)

- Karya Peziarahan  untuk menumbuhkan devosi (puhsarang dan Klepu)

- KomSos  (menggantikan tabloid Suka menjadi Yubileum, buletin tiap paroki)

- Pusat Pelayanan Pastoral Mahasiswa

- Pemberdayaan Komisi BIAK, REKAT dan Keluarga

 

 

-------------------------------------------------------------------

 

 

Msgr. V. Sutikno W.

(2007 - …. )

“ Ut Vitam Abundantius Habeant”

 

2007-2009

 - Menggali makna Motto sebagai buah dari mendengarkan Kehendak Allah melalui KS

 - Menggali eklesiologi KV II ------> pendasaran Pola Pastoral berbasis komunio (persekutuan) konteks keuskupan Surabaya

 - Restrukturisasi lembaga keuskupan :

 - Conventio scripta

 - Pemekaran wilayah kevikepan

 - Solidaritas pendidikan

 - Desain  Musyawarah Pastoral (Mupas) dan pembenahan Komisi

 

BIDANG-BIDANG  STRATEGIS  PASTORAL

Tri Tugas Kristus  ---->  Panca Tugas Gereja  ----> 15 BIDANG  ---->  4 RUMPUN